PENDEKATAN ORANG TERNATE DALAM MENGENAL TUHAN
Sampai saat ini perdebatan tentang kebenaran tuhan dan dimana
letak tuhan menjadi perdebatan dan kajian yang sangat luar biasa. Tak
peduli mahasiswa, kaum intelek, sampai yang bersendal jepit. Berbagai
metode tentang pencarian dan pemahaman datang laksana angin dan pergi
juga laksana seperti angin ada yang datang membawa ajaran-ajaran
bertuhan yang baru ada pula yang selalu berpegang teguh pada
warisan-warisan sejarah.
Disini dengan segenap kekurangan saya mencoba menganalisis pencarian tuhan masyarakat ternate dalam pembacaan simbol goheba (burung berkepala 2 berhati 1). Dalam pembacaan simbol goheba terdapat beberapa pengertian diantaranya sebagai berikut:
1.Laki-laki dengan perempuan
2.Pemimpin dengan rakyat
3.Hamba dengan pencipta
Pada poin ketiga pembahasan tentang hamba dengan sang pencipta saya ingin mengutak atik sedikit memakai sandaran dalam ajaran leluhur dengan pendekatan Immanuel Kant dan jean paul Sartre.
Dengan meminjam bahasa yang di suarakan Immanuel Kant dengan lantang ia berkata “faith starts when reason stops” ungkapan Kant ini mengingatkan kita pada kenyataan bahwa untuk meraih iman di perlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Bahkan, harus mengorbankan hakikat dasar yang tiada lain adalah akal. Dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan bahasa ternate (dola bololo) “fotike akal dan fosidike akal” kalimat ini menjelasakn bahwa akal harus di tundukan dan tidak semua bisa di capai oleh akal (akal bukan otak).
Tetapi jika saja kita sedikit membalikan kepala kita terhadap pendapat jean paul Sartre dengan eksitensialismenya “manusia itu bebas” kata Sartre “bahkan manusia itu kebebasan itu sendiri” kalbu, ruh, akal, dan nafsu adalah bagian dari totalitas manusia (sebagai individu). Tidak ada hubungannya dengan orang lain, tidak juga tuhan. (tinggal memilih menjadi manusia bebas atau mengakui tuhan sebagai sumber nilai).
Dalam pendekatan masyarakat ternate, pencarian tuhan yang disimbolkan dalam goheba (burung berkepala dua dan berhati satu). Pemaknaan arti dari simbol ini sungguh luar biasa. Mengapa tidak burung goheba diartikan sebagai falsafah yang dengan bahasa “jika kau mencariku di timur dan di barat kau tidak temukan aku, aku ada dalam satu buah bejana yaitu hatimu”. Pemaknaan bahasa “jika kau mencariku di timur dan di barat= kepala burung yang mengahadap ke arah timur dan barat” dan “aku ada dalam sebuah bejana yaitu hatimu=hati burung yang 1”.
Dalam bahasa pertama “jika kau mencariku di timur dan di barat kau tidak temukan aku” bahasa ini di artikan sebagai seseorang yang sedang mencari tuhan dengan mentuhankan benda-benda. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pencarian kebenaran tuhan oleh nabi Ibrahim as dengan mentuhankan pada bulan, bintang, dan matahari sebelum mendapat kesimpulan bahwa benda yang tenggelam yang berasal dari terbit bukanlah tuhan yang sesungguhnya. Dengan kata lain tuhan bukanlah sesuatu yang redup melainkan cahaya maha cahaya (kesimpulan bahwa yang esa merupakan cahaya maha cahaya bersandar pada analogi cahaya bintang (redup) menuju cahaya bulan (agak terang) kemudian cahaya matahari yang (terang) sampai pada cahaya maha cahaya tuhan).
Tibalah saatnya kita pada sebuah jalan yaitu memilih. Disini kita diperhadapkan dengan sebuah pilihan atas apa yang akan kita jalani dan apa yang kita anggap sebuah kebenaran akan adanya tuhan. Singkat kata untuk masalah memilih berarti hal itu kita yakini kebenarannya tapi bagaimana jika hal itu belum tentu benar karena kebenaran bersifat relative. Lagi-lagi saya memakai kata dalam kalimat kedua goheba (burung berkepala 2 dan berhati 1) “aku ada dalam sebuah bejana yaitu hatimu”.
Sebelum melanjutkan pembahasan ini aku ingin bercerita tentang sebuah percakapan antara sultan takdir alisjahbana dengan haji agus salim yang pernah di ceritakan oleh nurcholis madjid
Sultan Takdir alisjahbana: saya heran melihat pak haji, mengapa masih saja sembahyang. Bagi saya sembahyang sungguh tak masuk akal. Gugatnya sinis dan lantang
Agus salim: maksud kamu bagaimana. Tanya agus salim
Sultan Takdir alisjahbana: ya, saya tak mau dan tidak bisa menerima sesuatu yang tidak masuk di akal, yang tidak bisa dibuktikan.
Agus salim: oh begitu.? Kamu kan orang minang, sama seperti saya. Sesekali pulang ke minang bukan.?
Sultan Takdir alisjahbana: ya memang kenapa..?
Agus salim: nah kalau kamu pulang, kamu naik apa.?
Sultan Takdir alisjahbana: ya naik kapal (waktu itu belum ada pesawat)
Agus salim: nah, kalau kamu naik kapal berarti kamu tidak konsisten. Karena begitu kamu naik ke geladak kapal, yang lebih banyak berfungsi pada diri kamu bukanlah tabu melainkan percaya. Percaya bahwa kapal itu ke padang dan tidak belok ke Pontianak, percaya bahwa mesin kapal itu tidak akan macet, percaya bahwa kapal itu tidak akan pecah. Pokoknya semuanya percaya kalau menunggu sampai paham, kamu harus pelajari dulu hal itu. Baru naik kapal dan ini mustahil.
Dari kutipan cerita di atas kita bisa menarik 2 kesimpulan yaitu:
1.Untuk menemukan kebenaran yang berasal dari tuhan kita haruslah percaya
2.Kita tidaklah semestinya selalu membuktikan segala sesuatu dengan aqliyyah (membatasi akal)
Sebelum kita mengambil kesimpulan terhadap sebuah cerita di atas saya ingin mengajak pikiran kita untuk sedikit menoleh ke mana kiblat kita (khabah). Sebagai orang muslim sering kita katakan bahwa mempercayai atau menuhankan benda adalah syirik tapi apakah kita sadar bahwa selama beribu-ribu tahun ummat muslim mengahadap pada sebuah batu (khabah). Tanpa berpikir bagaimana kronologis pembangunan kabah kita dapat melihat secara kasat mata bahwa khabah adalah sebuah batu hitam. tetapi kenapa kita masih saja mengahadapkan muka kita ke khabah..? (selamat berpikir). Ilustrasi ini sengaja saya pakai tanpa mengurangi rasa keimanan anda tetapi dari ilustrasi ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa jika kita percaya dan menuhankan batu berarti apa bedanya kita dengan orang syirik tapi bagaimana bila kita percaya ini karena semata-mata karena karena tuhan. Dengan sedikit meminjam bahasa leluhur saya ingin katakan “SALAH TERKA BINASA”
Dengan pembahasan di atas lagi lagi dan lagi saya ingin tekankan pada kata percaya (menyakini dalam hati). Bila berbicara kata percaya berarti berbicara hati tetapi saya ingin tekankan bahwa kata percaya hanyalah awalan. Kenapa saya katakan begini kata kata percaya secara harviah bisa di artikan bahwa sesuatu yang di indrai (di batasi oleh indra). Semoga kata percaya mengantar kita pada keyakinan dan kita bisa mengimaninya.
Dengan bersandar pada hadist (orang muslim itu akan binasa kecuali beriman, orang beriman akan binasa kecuali beramal, orang beramal juga akan binasa kecuali iklhas) berarti kita bisa menarik kesimpulan bahwa tidaklah cukup hanya dengan beriman tetapi harus di amalkan (mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya) tetapi semua itu haruslah dilakukan secara iklhas (semata-mata karena allah bukan karena imbalan apapun).
Yang saya paparkan disini bukan karena saya lebih tau atau dengan congkak mengatakan aku lebih paham tapi yang ada disini adalah bahan pembelajaran bagaimana daya tarik budaya Moloku kie raha dalah khazanah ilmu. Maka sudah sepatutnya kita menjaga dan menggali, tidak membiarkan ini semua hilang di telan kekuasaan obsolut dalam Negara monarchi konstitusional.
Selamat merenung bersama kawan_
Catatan lama Immamuddin Ayub
Disini dengan segenap kekurangan saya mencoba menganalisis pencarian tuhan masyarakat ternate dalam pembacaan simbol goheba (burung berkepala 2 berhati 1). Dalam pembacaan simbol goheba terdapat beberapa pengertian diantaranya sebagai berikut:
1.Laki-laki dengan perempuan
2.Pemimpin dengan rakyat
3.Hamba dengan pencipta
Pada poin ketiga pembahasan tentang hamba dengan sang pencipta saya ingin mengutak atik sedikit memakai sandaran dalam ajaran leluhur dengan pendekatan Immanuel Kant dan jean paul Sartre.
Dengan meminjam bahasa yang di suarakan Immanuel Kant dengan lantang ia berkata “faith starts when reason stops” ungkapan Kant ini mengingatkan kita pada kenyataan bahwa untuk meraih iman di perlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Bahkan, harus mengorbankan hakikat dasar yang tiada lain adalah akal. Dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan bahasa ternate (dola bololo) “fotike akal dan fosidike akal” kalimat ini menjelasakn bahwa akal harus di tundukan dan tidak semua bisa di capai oleh akal (akal bukan otak).
Tetapi jika saja kita sedikit membalikan kepala kita terhadap pendapat jean paul Sartre dengan eksitensialismenya “manusia itu bebas” kata Sartre “bahkan manusia itu kebebasan itu sendiri” kalbu, ruh, akal, dan nafsu adalah bagian dari totalitas manusia (sebagai individu). Tidak ada hubungannya dengan orang lain, tidak juga tuhan. (tinggal memilih menjadi manusia bebas atau mengakui tuhan sebagai sumber nilai).
Dalam pendekatan masyarakat ternate, pencarian tuhan yang disimbolkan dalam goheba (burung berkepala dua dan berhati satu). Pemaknaan arti dari simbol ini sungguh luar biasa. Mengapa tidak burung goheba diartikan sebagai falsafah yang dengan bahasa “jika kau mencariku di timur dan di barat kau tidak temukan aku, aku ada dalam satu buah bejana yaitu hatimu”. Pemaknaan bahasa “jika kau mencariku di timur dan di barat= kepala burung yang mengahadap ke arah timur dan barat” dan “aku ada dalam sebuah bejana yaitu hatimu=hati burung yang 1”.
Dalam bahasa pertama “jika kau mencariku di timur dan di barat kau tidak temukan aku” bahasa ini di artikan sebagai seseorang yang sedang mencari tuhan dengan mentuhankan benda-benda. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pencarian kebenaran tuhan oleh nabi Ibrahim as dengan mentuhankan pada bulan, bintang, dan matahari sebelum mendapat kesimpulan bahwa benda yang tenggelam yang berasal dari terbit bukanlah tuhan yang sesungguhnya. Dengan kata lain tuhan bukanlah sesuatu yang redup melainkan cahaya maha cahaya (kesimpulan bahwa yang esa merupakan cahaya maha cahaya bersandar pada analogi cahaya bintang (redup) menuju cahaya bulan (agak terang) kemudian cahaya matahari yang (terang) sampai pada cahaya maha cahaya tuhan).
Tibalah saatnya kita pada sebuah jalan yaitu memilih. Disini kita diperhadapkan dengan sebuah pilihan atas apa yang akan kita jalani dan apa yang kita anggap sebuah kebenaran akan adanya tuhan. Singkat kata untuk masalah memilih berarti hal itu kita yakini kebenarannya tapi bagaimana jika hal itu belum tentu benar karena kebenaran bersifat relative. Lagi-lagi saya memakai kata dalam kalimat kedua goheba (burung berkepala 2 dan berhati 1) “aku ada dalam sebuah bejana yaitu hatimu”.
Sebelum melanjutkan pembahasan ini aku ingin bercerita tentang sebuah percakapan antara sultan takdir alisjahbana dengan haji agus salim yang pernah di ceritakan oleh nurcholis madjid
Sultan Takdir alisjahbana: saya heran melihat pak haji, mengapa masih saja sembahyang. Bagi saya sembahyang sungguh tak masuk akal. Gugatnya sinis dan lantang
Agus salim: maksud kamu bagaimana. Tanya agus salim
Sultan Takdir alisjahbana: ya, saya tak mau dan tidak bisa menerima sesuatu yang tidak masuk di akal, yang tidak bisa dibuktikan.
Agus salim: oh begitu.? Kamu kan orang minang, sama seperti saya. Sesekali pulang ke minang bukan.?
Sultan Takdir alisjahbana: ya memang kenapa..?
Agus salim: nah kalau kamu pulang, kamu naik apa.?
Sultan Takdir alisjahbana: ya naik kapal (waktu itu belum ada pesawat)
Agus salim: nah, kalau kamu naik kapal berarti kamu tidak konsisten. Karena begitu kamu naik ke geladak kapal, yang lebih banyak berfungsi pada diri kamu bukanlah tabu melainkan percaya. Percaya bahwa kapal itu ke padang dan tidak belok ke Pontianak, percaya bahwa mesin kapal itu tidak akan macet, percaya bahwa kapal itu tidak akan pecah. Pokoknya semuanya percaya kalau menunggu sampai paham, kamu harus pelajari dulu hal itu. Baru naik kapal dan ini mustahil.
Dari kutipan cerita di atas kita bisa menarik 2 kesimpulan yaitu:
1.Untuk menemukan kebenaran yang berasal dari tuhan kita haruslah percaya
2.Kita tidaklah semestinya selalu membuktikan segala sesuatu dengan aqliyyah (membatasi akal)
Sebelum kita mengambil kesimpulan terhadap sebuah cerita di atas saya ingin mengajak pikiran kita untuk sedikit menoleh ke mana kiblat kita (khabah). Sebagai orang muslim sering kita katakan bahwa mempercayai atau menuhankan benda adalah syirik tapi apakah kita sadar bahwa selama beribu-ribu tahun ummat muslim mengahadap pada sebuah batu (khabah). Tanpa berpikir bagaimana kronologis pembangunan kabah kita dapat melihat secara kasat mata bahwa khabah adalah sebuah batu hitam. tetapi kenapa kita masih saja mengahadapkan muka kita ke khabah..? (selamat berpikir). Ilustrasi ini sengaja saya pakai tanpa mengurangi rasa keimanan anda tetapi dari ilustrasi ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa jika kita percaya dan menuhankan batu berarti apa bedanya kita dengan orang syirik tapi bagaimana bila kita percaya ini karena semata-mata karena karena tuhan. Dengan sedikit meminjam bahasa leluhur saya ingin katakan “SALAH TERKA BINASA”
Dengan pembahasan di atas lagi lagi dan lagi saya ingin tekankan pada kata percaya (menyakini dalam hati). Bila berbicara kata percaya berarti berbicara hati tetapi saya ingin tekankan bahwa kata percaya hanyalah awalan. Kenapa saya katakan begini kata kata percaya secara harviah bisa di artikan bahwa sesuatu yang di indrai (di batasi oleh indra). Semoga kata percaya mengantar kita pada keyakinan dan kita bisa mengimaninya.
Dengan bersandar pada hadist (orang muslim itu akan binasa kecuali beriman, orang beriman akan binasa kecuali beramal, orang beramal juga akan binasa kecuali iklhas) berarti kita bisa menarik kesimpulan bahwa tidaklah cukup hanya dengan beriman tetapi harus di amalkan (mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya) tetapi semua itu haruslah dilakukan secara iklhas (semata-mata karena allah bukan karena imbalan apapun).
Yang saya paparkan disini bukan karena saya lebih tau atau dengan congkak mengatakan aku lebih paham tapi yang ada disini adalah bahan pembelajaran bagaimana daya tarik budaya Moloku kie raha dalah khazanah ilmu. Maka sudah sepatutnya kita menjaga dan menggali, tidak membiarkan ini semua hilang di telan kekuasaan obsolut dalam Negara monarchi konstitusional.
Selamat merenung bersama kawan_
Catatan lama Immamuddin Ayub
Struktur Pemerintahan Kesultanan Ternate
Kesultanan Ternate merupakan suatu lembaga pemerintahan tradisionil yang menjadi pusat tata-kehidupan serta tata-keagamaan yang langsung dihayati oleh masyarakat Ternate selama berabad-abad. Sudah sewajarnya apabila dalam mengenali latar belakang adat dan kesenian Ternate, kita lebih dulu mengetahui seluk-beluk dalam kesultanan Ternate.
Dalam pemerintahan kesultanan Ternate juga dikenal adanya lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Sultan selain sebagai kepala negara juga berfungsi sebagai kepala pemerintah. Lembaga eksekutif, lembaga kesultanan Ternate disebut “Bobato Madopolo”. Terdiri dari 1. Jogugu, mangkubumi atau perdana mentri yang juga menjabat kepala staf angkatan bersenjata kesultanan dengan pangkat Majoru Perang. 2. Kapita Perang, dapat disamakan dengan menteri pertahanan dan keamanan. 3. Kapita lau, laksamana angkatan laut kesultanan 4. Hukum soa-sio, menteri dalam negeri 5. Hukum sangaji, menteri luar negeri 6. Tulilamo, menteri sekretaris negara 7. Bobato Delapan Belas, yaitu 18 anggota dewan legislatif
Adapun lembaga legislatif dalam kesultanan Ternate disebut “Bobato Delapan Belas” Bobato delapan belas terdiri dari wakil-wakil rakyat dari ke delapan belas marga, yang disebut “Soa”. Yang terdapat di Ternate yang mewakili 41 soa atau marga Ternate. Ke delapan belas soa atau marga meruapakan suatu Gemeinschaft. Masing-masing soa mempunyai kepala soa, pangkat kepala soa itu namanya sendiri-sendiri pula. So-sio yang terdiri dari sembilan soa mempunyai kepala yang berlainan nama pangkatnya. Yaitu pangkat kimalaha dan pangkat fanyira. 1. Kimalaha Marsaoli 2. Kimalaha Tomaito 3. Kimalaha Tomagola 4. Kimalaha Tamadi 5. Kimalaha Payahe 6. Fanyira Jiko 7. Fanyira Jawa 8. Fanyira Tolangara 9. Fanyira Tabala
Sangaji yang juga terdiri dari sembilan soa, para kepalanya mempunyai pangkat yang sama namanya, yaitu pangkat sangaji. 1. Sangaji Tamajiko 2. Sangaji Malayu 3. Sangaji Limatahu 4. Sangaji Kulaba 5. Sangaji Malaicim 6. Sangaji Tonolen 7. Sangaji Tafmutu 8. Sangaji Tafaga 9. Sangaji Takafi
Meski sultan sebagai kepala pemerintahan mempunyai hak veto yang disebut Jaib Kolano untuk menolak keputusan lembaga legislatif, namun dari konsetasi pemerintah kesultanan Ternate di mana kekuasaan terbagai atas dua lembaga yaitu lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Maka jelaslah, bahwa sistem pemerintahan kesultanan ternate bersifat demokratis atau pun merupakan suatu kerajaan parlementer.
Hal mana dapat dijadikan suatu bukti sejarah, bahwa kesultanan Ternate adalah salah satu di antara kerajaan-kerajaan se nusantara yang sejak abad ke XIII telah menganut prinsip demokrasi.
Dari segi tata kehidupan spiritual, sultan adalah Imam Agung yang berkewajiban menjaga tata tertib dan penyebaran agama. Hanya saja para sultan di Ternate tidak menyebutkan dirinya khalifatullah. Dalam kedudukannya sebagai seorang imam, sultan sultan di bantu oleh para ulama yang memiliki pangkatnya sendiri-sendiri. Pangkat ulama yang tertinggi, ialah Qadhie, dalam bahasa Ternate disebut kali. Biasanya di sebut Jo KalemI, kemudian imam. Ada lima orang imam dalam kesultanan Ternate. • Imam Jiko • Imam Jawa • Imam sangaji • Imam Moti • Imam Bangsa Pangkat ulama lainnya, ialah khatib, yang berjumlah enam antara lain: • Khtaib Jiko • Khatib Jawa • Khatib Sangaji • Khatib Moti • Khatib Bangsa • Khatib Jurutulis
Segi lain dalam pemerintahan kesultanan Ternate, ialah segi ketentaraan. Sultan adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata. Beliau dibantu oleh majoru perang. Jabatan ini selalu dirangkap oleh jogugu. Majoru-perang sama dengan staf angkatan bersenjata kesultanan. Kapita perang dapat disamakan dengan menteri pertahanan keamanan dan dalam tugasnya sehari-hari dibantu oleh kapita lau yang disamakan dengan laksamana angkatan laut kesultanan. Dan kapita kiye dapat disamakan dengan jabatan panglima wilayah (teritorium).
Dalam pelaksanaan operasional, tentara kesultanan Ternate selalu terdiri dari dua angkatan. Yaitu angkatan laut di bawah komandan yang berpangkat letnan. Anggota-anggota angkatan bersenjata kesultanan Ternate senantiasa diambil dari soa Heku, yang merupakan kesatuan dari 12 soa dan soa cim kesatuan 11 soa.
Penulis : Taufik Z. Karim
Mendengar Togal (Sekan Hidup 1000 Tahun Lagi) Hairil AR
Kie Besi yang merupakan Gunung Api, tercatat sejak tahun 1550 – 1988, terjadi letusan (kegiatan erupsi) sebanyak 11 kali. Diantaranya terjadi pada tahun 1646, 1760, 1890, dan 1988 yang mengakibatkan korban manusia dan kerugian harta benda pada waktu itu. Letusan terakhir berlangsung pada Juli 1988. Secara administratif, Kie Besi ini terletak di kepulauan Makean, Kabupaten Halmahera Selatan (Propinsi Maluku Utara).
Kebanyakan penduduk yang ada di kepulauan Makean berprofesi sebagai petani dan nelayan. Namun tidak jarang orang Makean yang berhasil di luar daerah kelahirannya. Semua itu berkat kegigihan dan keuletan yang merupakan ciri khas orang Makean.
Sebagai sebuah pulau kecil dan merupakan pulau gunung api, hanya tanaman keraslah yang bisa digarap diantaranya Kenari, Pala dan Cengkeh. Yang saat ini menjadi komoditas andalan penduduk Makean.
Selain di sebabkan kegigihan dan keuletan dalam berusaha, disamping itu karena Spirit dari Musik Togal. Musik Togal merupakan salah satu ciri khas musik orang makean yang dijadikan sebagai pengantar dalam menjalankan aktifitas, dan sering disajikan pada acara-acara seperti (pernikahan, sunatan, dan penjemputan tamu).
Di pulau makean tepatnya di kampoeng Ngofagita dan Tagono (Makean Luar dan Makean Dalam “dalam istilah orang makean”). Kakek dan bibi, serta keluarga yang berdiam disana, sebelum dan sesudah menjalankan aktifitasnya yang kebetulan berprofesi sebagai petani ternyata kata mereka; aktifitas yang dilakukan disamping tanggungan hidup bagi kebutuhan keluarga, adalah karena terinspirasi oleh musik Togal. Dan makna filosofis itu terdapat dimusik togal. Kata kakek, dengan mendengarkan musik togal sambil ditemani segelas kopi dan bagulung tabako sek “istilah moloku kie raha” berarti hidup serasa damai (sekan hidup 1000 tahun lagi), lanjut kakek sambil mendengarkan Togal setelah selesai menjalankan aktifitasnya “kita akan menjadi lebih semangat dan bangkit untuk tetap bergerak ketika kita mendengarkan Togal”. Saya mengamati aktifitas yang dilakukan masyarakat makean diluar kepulauan makean maupun masyarakat yang hidup di kepulauan makean ternyata spirit yang dimiliki oleh masyarakat makean maknanya ada di musik togal, karena ketika selesai mendengarkan musik togal rasa lelah, sumpek dalam sekejap menghilang.
Togal merupakan salah satu musik khas daerah moloku kie raha khususnya daerah Makean, yang memiliki makna filosofis akan kehidupan didunia dan di akhirat. Bentuk atau alat musik togal menggambarkan huruf arab (Alif, Lam, Ta dan Gain) serta suara khas penyanyi dan “pendegarnya” selalu meneriakan aiiiiiiii ampooong (ya Allah ampunilah kami), ampong jouuuuuuuuuuuuuuee (ya Allah luruskanlah tujuan kami). Bahasa khas ini menggambarkan hubungan antara manusia dengan tuhan serta kebesaranNYA.
Disamping sebagai spirit menjalankan aktifitas sebagai petani dan nelayan, banyak orang makean yang hidup diluar pulau makean menjadikan musik togal sebagai Inspirasi agar tetap semangat dalam menghadapi hidup terutama mereka yang sedang menjalankan proses study diluar daerah moloku kie raha dan mereka yang berada ditanah perantauan. Demikian gambaran akan Musik Traditional ala “Moloku Kie Raha” Togal.
0 komentar:
Posting Komentar