"mama sekarang saya su bisa balajar lagi, tapi bukan di sekolah hanya di ruang terbuka, torang tara pake seragam , hanya pake baju biasa deng tara bayar uang sekolah"
wujud lisan dari seorang anak kepada ibunya yang mengharapkan agar sekolah tak ada kata bayar,
ini terjadi di banyak tempat, apalagi JAKARTA yang banyak sekali anak-anak jalanan yang butuh sekolah, bukan karna malasnya anak-anak yang ada di jalan , tetapi kebutuhan ekonomi mereka yang di jalan masih belum sepenuhnya di perhatikan oleh pemerintah, sistem pendidikan yang di bentuk oleh NEGARA ini masih lemah untuk di terapkan , seandainya kalau semua pendidikan yang ada di indonesia menerapkan sistem pendidikan GRATIS atau buat saja sekolah untuk anak -anak yang ada di jalan , ataukah bisah negara ini mengurusi semua anak-anak yang ada di jalanan yang masih tak tau arah hidupnya ? .
ini sedikit cerita tentang komunitas taky yang biasa mangkal di blakang moll atau biasa kita sebut BLOK M, 29 Maret 2015 , selesai soladh Isa ' ada beberapa anggota komunitas rumput taky dari cabang terminal dan kampung gamalama turun ke jalan dengan tujuan untuk ngamen penggalangan dana untuk membuat kaos komunitas , dari warung ke warung dan di temani hujan gerimis di malam itu , karna semangat kebersamaan '' kehangatan untuk terus berjuang selalu ada di hati kawan - kawan komunitas TAKY, tetapi ada tatapan yang kuat di salah satu warung, tatapan yang penuh kesombongan dan penuh kerakusan , ternyata ada sekelompok guru lagi makan .
kata - kata permisi ataupun orasi di dalam warung sering kami lakuakan, seperti ini orasimalam itu " asalamualaikum
maaf menggangu makan malan anda semua
perkenalkan kami dari komunitas rumput taky
seperti biasa selalu menghibur pengunjung yang sedang makan blok M
namun pada malam hari ini kami ngamen tujuannya untuk menggalang dana
kamuniatas kami.
tiba-tiba tatapan yang sombong itu bersuara dengan nada yang seakan merendakan kami , bukan cuma satu orang saja tapi ada 3 orang guru yang adu mulut dengan kami, bukan melawan orang tua,
"tapi si guru itu bilang kalau tak ada pendidikan jalanan , masa ada pendidikan di jalan"
kami hanya bilang pak " pendidikan di jalan bukan seperti di sekolah yang bapak sekarang mengajar ini hanya bentuk sekolah yang kami coba bentuk tetapi di dalamnya mengajarkan tentang kreatifitas ''
bukan matematika, fisika, ataupun kimia", langsung saja dengan gampang dia menjawab anak - anak yang salah bukan guru " karna mereka sendiri yang malas sekolah , sering bolos dan selalu nakal''
si guru ini tidak mengerti apa maksud dari komunitas kita , ini tentang komunitas yang mau bergerak di bidang kreatifitas , pendidikan dan budaya , dan kamipun bukan mau mengikuti sistem pendidikan yang di bentuk oleh negara , tapi kami hanya ingin belajar di jalan bersama anak-anak di jalanan.
sistem saja berbeda, mungkin guru itu tak mengerti komunitas , kami juga ingin membantu teman , saudara , dan sahabat kami yang berada di jalan agar sama-sama belajar , kami juga tak mau anak - anak yang ada di jalan di cap sebagai pengemis , atau preman. seharusnya guru itu juga mendukung gerakan kami, karna etika kebudayaan juga kami terapkan dalam komunitas kami,
pertanyaan ini sering saya tanya di kawan - kawan komunitas " titel guru sudah banyak di indonesia tapi kenapa masih ada anak - anak yang putus sekolah ? memangnya guru mampuh atasi anak agar jangan malas untuk sekolah ? kenapa guru tak cari tau kalau anak itu sering bolos ?
ini yang harus di lakuakan oleh guru di maluku utara, kedekatan guru dan murid itu juga perlu untuk di lakuakan , seandainya anak itu bolos karna dia bosan dengan guru yang mengajarkan selalu jahat , atau karna cara mengajar guru membosankan bagi muridnya sehingga dia malas untuk belajar mata pelajaran itu.
bukan nilai di raport untuk menentukan kecerdasan orang, ingat semua orang itu punya kecerdasan yang berbeda - beda, kita harus pahami sebenarnya sekolah itu bebas di mana saja juga boleh yang penting sungguh-sungguh untuk belajar bukan main - main, seperti program komunitas rumput taky tentang LITERASI JALANAN, tujuannya untuk sama - sama kita belajar dengan anak - anak yang ada di jalan, program literasi jalan ini tak sama dengan pendidikan yang di bentuk oleh negara , biaya saja kita cari lewat ngamen sedangkan sekolah bentukan negara di biayai oleh negara sendiri.
cara kami belajar saja berbeda dengan yang ada di sekolah bentukan negara , kami belajar di alam terbuka bagi kami alam raya adalah sekolah dan semua orang itu guru, kami belajar bersama tak ada yang saling menggurui , kami juga punya papan tulis dan perpustakaan sendiri walaupun buku bekas tetapi cukup untuk saudara kami di jalan membacanya.
PAK ATAU BU YANG KATANYA GURU
belajar tak selamanya di dalam ruangan"
alam raya juga bisa di jadikan sekolah"
guru juga harus pahami pisikologi anak
LEBIH BAIK PENDIDIKAN GRATIS SAJA BU DAN PAK YANG KATANYA GURU
FOTO INI BERLOKASI DI BELAKANG MOLL JATI LEND
BY: DAORENGE PRAJURIT RIMBAH
0 komentar:
Posting Komentar