Kamis, 10 Oktober 2013

ilmu komunikasi



Pendahuluan
Menurut Gudykunst(1983), dalam tradisi ilmu komunikasi dikenal lima pendekatan teoritis yang dapat membantu kita dalam menelaah fenomena komunikasi antarbudaya:
  1. Teori komunikasi berdasarkan analisis kebudayaan implisit;
  2. Teori analisis kaidah peran;
  3. Teori analisis interaksi antabudaya;
  4. Teori yang bersumber dari tradisi retorika;
  5. Teori yang bersumber pada teori sistem
Dari kelima pendekatan itu, hanya tiga pendekatan yang pertama dengan varian-variannya  yang akan kita bahas dalam bab ini.
Teori Analisis Kebudayaan Implisit
Kebudayaan Implisit, di sini diartikan sebagai kebudayaan imaterial, yaitu kebudayaan yang bentuknya tidak nampak sebagai suatu “benda” namun dia “tersirat” dalam nilai dan norma budaya suatu masyarakat, misalnya bahasa. Mengenal Teori Komunikasi Antarbudaya Berdasar Tradisi Perspektif Ilmu Komunikasi

Setiap manusia telah menjadikan bahasa  sebagai kebudayaan implisit tersebut untuk mengungkapkan skema kognitif-nya. Yang dimaksud dengan skema kognitif  di sini adalah skema pikiran, gagasan,pandangan dan pengalaman manusia tentang dunia.
Manusia memakai bahasa untuk berkomunikasi guna mempertahankan hubungan antarpribadi maupun hubungan antarpribadi dengan suatu institusi dalam masyarakat.Dalam bahasa itu simbol-simbol verbal dengan suatu aturan tertentu diorganisasikan menjadi “kode-kode sosio-linguistik”. Kode-kode sosio-linguistik inilah yang nantinya akan menjadi karakteristik utama suatu masyarakat dengan budaya lisan. Ini artinya, kode linguistik menjadi bagian dari kebudayaan, sehingga logislah jika kode-kode itu juga dipengaruhi oleh kebudayaan yang pada akhirnya menjelma menjadi bahasa verbal.
Para  ahli sosio-linguistiklah yang pada mulanya tertarik untuk menelaah komunikasi antarbudaya dengan pendekatan bahasa.Frake (1968) misalnya, pernah meneliti tentang hubungan antara kebudayaan dengan cara anggota kebudayaan itu membentuk kata-kata.Dia menyimpulkan, bahwa setiap kata pasti mewakili konsep tertentu dan konsep itu merupakan skema kognitif individu.Dia juga menerangkan bahwa struktur skema kognitif individu, yang tercermin dalam komunikasi lewat bahasa, berasal dari dan dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaan tertentu, dalam hal ini kebudayaan implisit-nya.
Seorang peneliti lain, yakni Halliday (1978), berpendapat bahwa bahasa merupakan satu alat yang terbaik untuk mengkonseptualisasikan semua ikhwal tentang dunia secara objektif.Halliday melakukan penelitian tentang fungsi bahasa yang kemudian sampai pada kesimpulan bahwa fungsi utama bahasa berkaitan dengan pilihan strategi tindakan manusia.Menurutnya ada beberapa fungsi utama bahasa yang dapat dipakai sebagai pedoman di dalam tindakan manusia,di antaranya adalah fungsi :  pribadi,kontrol,referensial,imajinatif,dan manajemen identitas.
Fungsi pribadi di sini nampak dalam tindakan mengelaborasi perasaan subjektif,motif,kebutuhan, perspektif negosiasi, atau perundingan.
Fungsi kontrol dapat terekspresi dalam mempengaruhi cara orang berfikir dan bertindak.
Fungsi referensial mengambarkan  objek dan relasi objektif antara manusia dengan dunia luar.
Fungsi  imajinatif terlihat dari kemampuan suatu bahasa dalam menciptakan cara-cara baru melihat dunia luar.
Fungsi manajemen identitas terlihat dari kemampuan bahasa untuk menciptakan identitas individu.
Hasil penelitian lain tentang bahasa dalam kasus-kasus komunikasi lintas budaya menunjukkan bahwa pemerkayaan bahasa mampu memperluas pemahaman terhadap struktur objek kebudayaan,tipe-tipe strategi tindakan manusia dalam konteks komunikasi antarbudaya.
Menutup catatan kita tentang teori analisis kebudayaan implisit ini dapat kita garis bawahi bahwa pendekatan kebudayaan implisit memuat beberapa asumsi dasar yaitu :
  1. Bahwa kebudayaan mempengaruhi skema kognitif;
  2. Kebudayaan mempengaruhi organisasi tujuan dan strategi tindakan;
  3. Kebudayaan mempengaruhi pengorganisasian skema interaksi; dan
  4. Kebudayaan mempengaruhi proses komunikasi.
Teori Analisis Kaidah Peran
Selain terdapat berbagai versi aplikasi teori kaidah peran, dalam berbagai literatur komunikasi yang membahas tentang kaidah peranpun telah mendefinisikan konsep kaidah peran ini secara beragam.Namun secara umum konsep kaidah peran ini dapat digambarkan sebagai berikut : bahwa setiap peran manusia mempunyai “kaidah peran” tertentu sehingga satu peran akan diikuti oleh peran lain, satu perilaku akan diikuti oleh perilaku lain( Rom Harre dalam Pearce 1976).
Misalnya, jika terjadi X maka orang biasanya akan melakukan Y, oleh karena itu orang akan mempunyai peluang melakukan Y.Akibatnya kita dapat meramalkan bentuk-bentuk perilaku individu.
Berikut ini beberapa contoh penelitian yang mendasarkan pada teori kaidah peran dan dipakai dalam konteks komunikasi antarbudaya:
Penelitian Ekman dan Friesen terhadap beberapa kelompok budaya menunjukkan bahwa peranan ekspresi wajah menggambarkan emosi yang selalu berubah secara teratur.Perubahan-perubahan itu memberikan informasi tentang tingkat emosi manusia.
Morris dkk, dalam Pierce (1976), yang meneliti makna mimik komunikasi lintas budaya juga mendapati bahwa setiap perilaku gerakan tubuh mengikuti pola yang teratur.Dia juga menemukan ada perbedaan makna gerakan tubuh antarbudaya.Kesimpulan Morris, perilaku non-verbal antarbudaya mempunyai regularitas tertentu di mana satu perilaku diikuti oleh perilaku yang lain.
Penelitian tentang kaidah peran oleh Cushman dan Pearce (dalam Pierce 1976), menunjukkan bahwa kaidah peran ternyata juga membentuk perilaku.Mereka menyimpulkan bahwa pelaku(kaidah peran) sadar bahwa yang ia lakukan pasti mempunyai dampak tertentu.Jadi misalkan, Si A menginginkan Y.Si A tahu bahwa dia harus melakukan X kalau mau dapat Y.Karena itu si A menyiapkan tindakan tertentu untuk mendapatkan Y.
Teori Analisis Interaksi Antarbudaya
Di bawah payung teori analisis interaksi antarbudaya terdapat beberapa pendekatan yang sering digunakan:
  1. Pendekatan jaringan metateoritikal;
  2. Teori pertukaran;
  3. Teori pengurangan tingkat ketidakpuasan;
  4. Pendekatan psikologi humanistik
  5. Pendekatan etnografi dan deskripsi kaidah peran;
  6. Pendekatan adaptif;
  7. Coordinated Management of Meaning/CMM Approach.
(1)Pendekatan jaringan metateoritikal
Teori ini memfokuskan pada tema hubungan antarpribadi dengan tekanan utama pertentangan atau ketegangan mental akibat individu yang mempertahankan “prinsip otonomi pribadi” dengan “ketergantungan antarpribadi”.
Pada mulanya teori ini memang berawal dari kajian para ahli psikologi.Bohcner (1967) misalnya, pernah meneliti tentang persaingan individu dalam sebuah organisasi.Ia menemukan, bahwa ketegangan individu dapat dijelaskan dengan melihat sifat hubungan antarpribadi para karyawan.Bila hubungan antarpribadi “tertutup”, maka tiap karyawan akan merasa tegang.Sebaliknya, semakin “terbuka”, maka ketegangan mereka akan berkurang.
Ernest Becker(1971) meneliti tentang hubungan antara otonomi pribadi dengan ketergantungan pada sesama.Becker menemukan semacam  paradoks otonomi individu.Proses ini bermula sejak anak-anak yang dalam pendidikan dalam keluarganya senantiasa diliputi oleh larangan ini dan itu.Pada mulanya, si anak akan melanggar kontrol orang tuanya, namun kemudian anak tersebut sampai pada titik di mana dia selalu ragu-ragu dalam bertindak.Akhirnya, setiap kali akan melakukan sesuatu anak tersebut berada pada dilema antara mempertahankan otonomi individu atau bergantung pada orang tuanya. Dialektika seperti ini akan terbawa sampai dewasa dan menentukan daya kontrol terhadap relasi antarpribadi.
Bagaimana teori ini ketika diterapkan dalam komunikasi antarbudaya? Lewat konstruksi teori yang kita pahami di atas maka kita bisa menganalisis tindakan komunikasi dengan memperhatikan pada tingkat mana individu memiliki otonomi dan pada tingkat mana individu masih bergantung pada orang lain.Artinya dua faktor di atas menjadi variabel-variabel yang juga mempengaruhi komunikasi antarbudaya.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan dengan pendekatan di atas menemukan bahwa dalam kebudayaan Barat, yang mempunyai struktur kaidah relasi antarpribadi yang ketat sangat mempengaruhi derajad relasi, yakni relasi yang sangat terbatas dan tertutup. Hal itu nampak dalam frekuensi komunikasi dan tingkat pertukaran informasi antarpribadi.
Data-data dari berbagai hubungan antarbudaya menunjukkan bahwa orang Amerika berkulit hitam lebih membutuhkan informasi tentang kelanjutan hubungan daripada orang Amerika kulit putih.
Kesimpulan dari pendekatan metateoritikal ini adalah bahwa nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat sangat menentukan otonomi individu,ketergantungan individu dengan orang lain dalam rangka menciptakan derajad hubungan antarpribadi.
(2)Teori Pertukaran
Teori pertukaran atau exchange theory,pada mulanya dikembangkan oleh para peneliti sosiologi.Thibaut dan Kelly-lah (dalam Liliweri,1991) yang mengembangkan teori ini.
Inti teori ini mengatakan bahwa hubungan antarpribadi bisa diteruskan dan dihentikan.Hal ini dikarenakan dalam perkembangan hubungan antarpribadi, setiap orang mempunyai pengalaman tertentu sehingga dia dapat membandingkan faktor-faktor motivasi dan sasaran hubungan antarpribadi yang dilakukan di antara beberapa orang.Makin besar keuntungan yang diperoleh dari hubungan antarpribadi, makin besar peluang hubungan tersebut diteruskan.Begitu juga sebaliknya.
Wood (1982) mengidentifikasi 12 karakeristik pendekatan pertukaran tersebut:
1)  Prinsip Individual
Komunikasi memasuki tahap awal.Antara individu yang memprakarsai hubungan antarpribadi berharap kualitas hubungan meningkat. Apabila memburuk maka hubungan antarpribadi dihentikan
2)  Komunikasi coba-coba
Tiap individu melakukan uji coba dalam hubungan antarpribadi dengan cara mencari informasi di antara masing-masing pihak.Apakah hubungan akan berlanjut bergantung pada informasi yang diperoleh,apakah informasi itu dapat meningkatkan loyalitas hubungan atau justru menambah keragu-raguan.
3)  Komunikasi eksplorasi
Hampir sama dengan komunikasi coba-coba hanya saja sifatnya lebih mendalam.Informasi dari berbagai sumber digali makin dalam.Individu yang terlibat di sini akan meneliti ulang tiap informasi yang didapatkan dan tidak begitu mudah mengambil keputusan.
4)  Komunikasi ephoria
Di sini, masing-masing individu sudah meleburkan kepentingan yang berbeda dan membentuk suatu hubunganbaru atas dasar yang sama.
Fungsi komunikasi tahap ini:
(1) mengubah individu dari suatu peran sosial ke peran sosial yang baru dan menjadikan peran baru itu sebagai dasar hubungan yang baru;
(2) membiarkan dasar hubungan yang sudah disepakati berlangsung terus;
(3)memberikan informasi tentang pribadi kepada partisipan komunikasi;
(4) membiarkan empaty dengan mengambil peran komunikan,
5)  Komunikasi yang memperbaiki
Pada tahap ini komunikasi berfungsi memperbaiki dan mengevaluasi kembali hubungabn antarpribadi, keputusan yang diambil biasanya adalah terus melanjutkan hubungan antarpribadi.
6)  Komunikasi pertalian
Dua pihak menetapkan bersama waktu dan tempat kesinambungan komunikasi.
7)  Komunikasi sebagai pengemudi
Tahap ini ditandai dengan tahap keluwesan kontrol atas kebiasaan-kebiasaan hubungan antarpribadi.Daya kontrol telah tercipta sedemikian rupa sehingga menghasilkan kaidah peran bersama.
8)  Komunikasi yang membedakan
Ini adalah tahap di mana individu justru kembali berusaha menekan karakteristik individu.Individu kembali menegaskan perbedaan-perbnedaan pola kebudayaan dan kemudian meneruskan relasi dengan cara lain.
9)  Komunikasi yang disintegratif.
Komunikasi mulai menemukan titik-titik perbedaan antar pribadi sehingga berpotensi munculnya disintegrasi.Dua pihak mulai mengingkari budaya masing-masing, kaidah-kaidah relasi mulai di rusak sehingga derajad hubungan diperenggang.Komunikasi antarpribadi hanya berlangsung kalau menyangkut tema-tema tertentu, jarak sosial antarpribadi semakin besar.
10)        Komunikasi yang macet.
Komunikasi masuk pada tahap di mana masing-masing pihak mencari peluang dengan menciptakan masalah dan waktu/kesempatan yang cocok agar hubungan  antarpribadi dihentikan.Relasi antarpribadi hanya akan berlangsung pada konteks-konteks yang benar-benar pribadi.
11)        Pengakhiran Komunikasi
Hubungan antar pribadi memasuki tahap perundingan tentang perhentian interaksi antarpribadi.
12)         Individualis
Komunikasi memasuki tahap akhir, di mana suasana hubungan antarpribadi tidak pasti, masing-masing pihak menyendiri dan tidak tahu dari mana komunikasi harus dimulai.
(3)Teori Pengurangan Tingkat Ketidakpuasan
Teori  ini dikembangkan oleh Berger(1982).Dia mengemukakan bahwa salah satu fungsi komunikasi adalah fungsi mencari informasi dalam upaya mengurangi tingkat ketidakpuasan komunikator dan komunikan.Menurut Berger, setiap individu berkomunikiasi antarpribadi hanya untuk mendapatkan kepastian.Kepastian membuat seorang individu merasa yakin dan percaya kepada sesama.
Keinginan untuk mencari kepastian ini makin kuat ketika:
  1.   Perilaku pihak lain menyimpang dari kebiasaan umum;
  2.  Kita mengantisipasi perulangan interaksi; dan
  3. Ada peluang untuk memperoleh ganjaran dan hukuman dari pihak lain.
Berger mengajukan strategi mencari informasi agar individu mengurangi tingkat ketidakpuasan tentang pihak lain:
1. Mengamati pihak lain secara pasif
2. Menyelidiki atau menelusuri pihak  lain.
3. Menanyakan informasi melalui pihak ketiga.
4. Penanganan lingkungan terhadap pihak lain;
5. Interogasi ;
6. Membuka diri .
Teori ini telah begitu sering diterapkan ke dalam strategi komunikasi antarbudaya, misalnya untuk menyusun strategi mengurangi tingkat ketidakpastian dalam hubungan antara individu-individu yang saling beda kebudayaan atau bangsanya.
(4)Pendekatan Psikologi Humanistik
Teori atau pendekatan psikologi humanistik senantiasa menekankan bahwa jika setiap pribadi dari berbagai budaya yang berbeda membuka pribadinya bagi sesama maka dia pun akan dikenal dan mengenal sesama.
Beberapa penelitian tentang “keterbukaan” pernah dilakukan, di antaranya oleh Park (dalam Gudykunst), Walter Kaufman(1980), McNamee (1980), kemudian Cissna dan Sieberg, Harris dkk.(dalam Gudykunst).Penelitian-penelitian tersebut menemukan bahwa pada umumnya setiap individu selalu berusaha membuka diri,derajad keterbukaan pribadi itu dipengaruhi oleh siatuasi dan kondisi, waktu dan kesempatan, siapa yang dijadikan objek relasi, jenis media yang dipilih dan lain-lain.
Sebuah teori lain yang mirip dengan ini dikemukakan oleh Johari yang kemudian dikenal dengan teori self disclosure  atau sering disebut teori “Johari Window”.Asumsi dasar teori ini mengatakan kalau setiap individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungan dengan orang lain.
(5) Pendekatan peran berdasarkan deskripsi etnis
Teori ini dirumuskan di antaranya oleh Wallace (1961) yang mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi ditentukan oleh pendekatan peran berdasarkan deskripsi etnografi.
Teori ini masih dekat dengan teori/pendekatan metateoritikal yang berbicara soal otonomi individu dan ketergantungan antarpribadi. Bila diterapkan dalam konteks komunikasi antarbudaya maka pertanyaan inti pendekatan peran berasarkan deskripsi etografi ini adalah, apakah setiap norma kelompok etnik memberikan peluang terbentuknya otonomi individu dan ketergantungan pribadi.
Dalam suatu masyarakat arkais, tingkat otonomi individunya kecil sehingga deskripsi etnografi masyarakat arkais senantiasa digambarkan memiliki sikap kolektif. Dan ketika jumlah masyarakat arkais telah berkurang atau nilai-nilai kolektivitas pada masyarakat tersebut memudar maka terjadi kecenderungan meningkatnya tingkat otonomi individu.Faktor terakhir inilah yang sangat mempengaruhi hubungan antarbudaya, karena itu kita memerlukan deskripsi etnografi yang mendalam terhadap individu.
(6)Pendekatan adaptasi
Teori ini diperkenalkan oleh Ellingwoorth (dalam Gudykunst 1983), dia mengatakan bahwa setiap individu dikaruniai kemampuan untuk beradaptasi antarpribadi.Adaptasi nilai dan norma antarpribadi termasuk antarbudaya sangat ditentukan oleh dua faktor, yakni pilihan untuk mengadaptasi nilai dan norma yang fungsional atau mendukung hubungan antarpribadi.Atau nilai dan norma yang disfungsional atau tidak mendukung hubungan antarpribadi.
Beberapa penelitian Ellingworth berkisar pada pertukaran nilai yang diinformasikan melalui perilaku pesan verbal dan non-verbal.Pendekatan ini banyak diadopsi dalam komunikasi antarbudaya di negara-negara berkembang.
(7) Pendekatan Manajemen Koordinasi Makna
Teori  ini mengkhususkan diri pada “metapora pesan” dan diperkenalkan oleh Pearce dan Cronen ( dalam Gudykunst, 1983).Pendekatan ini mengajukan beberapa argumentasi sebagai berikut :
Bahwa hubungan antara pola-pola komunikasi akan dinilai berkualitas tinggi kalau hubungan itu dilakukan pada konteks hubungan antarpribadi yang dilandasi oleh konsep diri (self concept) atau konsep kebudayaan sendiri (self culture)
Asumsinya, semua tindakan menghasilkan konteks dan konteks menghasilkan tindakan.
Terdapat lima tingkat konteks dalam pendekatan manajemen koordinasi makna :
  1. Konteks perilaku verbal dan Nonverbal,diasumsikan bahwa pesan yang ditukar oleh mereka yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi selalu memilih konteks yang sesuai dengan penerapan pesan verbal dan  nonverbal
  2. Konteks Aktivitas  Komunikasi Verbal, konteks ini selalu dikaitkan dengan tingkat pemahaman bersama atas makna.
  3. Konteks Episode, konteks ini selalu menggambarkan situasi yang memudahkan penampilan dan pengembangan pola-pola perilaku timbal balik yang secara teratur di terima.
  4. Konteks Relationship, adalah konteks yang menggambarkan situasi bentuk sosial antara dua orang atau lebih.
  5. Konteks Life Scripting, adalah konteks yang mementingkan penghayatan atas “konsep diri” dalam pelbagai tindakan relasi antarpribadi
  6. Konteks Pola-pola Budaya, konteks yang memberi kemungkinan individu untuk mengetahui dan memilih tindakan dan makna relasi antarpribadi yang diterima oleh masyarakat secara kolektif.
Referensi :
Berger & Chaffee (Eds) Handbook of Communication Science.Beverly Hills,Calivornia:Sage,1987
Gudykunst,William B.(Ed) “Intercultural Communication Theory “ Beverly Hills, Calivornia :Sage Publications, 1983
Liliweri, Alo. Gatra-gatra Komunikasi Antarbudaya,Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2001

Rabu, 09 Oktober 2013

TEORI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA



TEORI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Philipsen (dalam Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat, dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Pada dasarnya, budaya adalah suatu kode.
Terdapat empat dimensi krusial yang dapat untuk memperbandingkan budaya-budaya, yaitu:
  1. Jarak kekuasaan (power distance)
  2. Maskulinitas.
  3. Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance).
  4. Individualisme.
Berkenaan dengan pembahasan komunikasi antarbudaya, Griffin (2003) menyadur teori AnXiety/Uncertainty Management; Face-Negotiation; dan Speech Codes.
1. Anxiety/Uncertainty Management Theory (Teori Pengelolaan Kecemasan/Ketidakpastian).
Teori yang di publikasikan William Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan.
Ia menggunakan istilah komunikasi efektif kepada proses-proses meminimalisir ketidakmengertian. Penulis lain menggunakan istilah accuracy, fidelity, understanding untuk hal yang sama.
Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok. Terdapat dua penyebab dari mis-interpretasi yang berhubungan erat, kemudian melihat itu sebagai perbedaan pada ketidakpastian yang bersifat kognitif dan kecemasan yang bersifat afeksi- suatu emosi.
Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:
a. Konsep diri dan diri.
Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.
b. Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.
Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk di dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kecemasan.
c. Reaksi terhadap orang asing.
Sebuah peningkatan dalam kemampuan kita untuk memproses informasi yang kompleks tentang orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi secara tepat perilaku mereka.
Sebuah peningkatan untuk mentoleransi ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah peningkatan mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing.
Sebuah peningkatan berempati dengan orang asing akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi perilaku orang asing secara akurat.
d. Kategori sosial dari orang asing.
Sebuah peningkatan kesamaan personal yang kita persepsi antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan memprediksi perilaku mereka secara akurat. Pembatas kondisi: pemahaman perbedaan-perbedaan kelompok kritis hanya ketika orang orang asing mengidentifikasikan secara kuat dengan kelompok.
Sebuah peningkatan kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif kita dan atau harapan negatif akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam memperkrakan perilaku mereka.
e. Proses situasional.
Sebuah peningkatan di dalam situasi informal di mana kita sedang berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan sebuah peningkatan rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka.
f. Koneksi dengan orang asing.
Sebuah peningkatan di dalam rasa ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan perilaku mereka.
Sebuah peningkatan dalam jaringan kerja yang kita berbagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita untuk memprediksi perilaku orang lain.
2. Face-Negotiation Theory.
Teori yang dipublikasikan Stella Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan –perbedaan budaya dalam merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik kita, cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan, dan kecemasan dan ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang membuat kita tidak berdaya/harus terima. Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga beragam.
Terdapat tiga perbedaan penting diantara budaya individulis dan budaya kolektivis. Perbedaan-perbedaan itu adalah dalam cara mendefinisikan: diri; tujuan-tujuan; dan kewajiban.
konsep
Budaya individualis
Budaya kolektivis
Diri
Sebagai dirinya sendiri
Sebagai bagian kelompok
Tujuan
Tujuan diperuntukan kepada pencapaian kebutuhan diri.
Tujuan diperuntukan kepada pencapaian kebutuhan kelompok
Kewajiban
Melayani diri sendiri
Melayani kelompok/orang lain.
Teori ini menawarkan model pengelolaan konflik sebagai berikut:
a. Avoiding (penghindaran) – saya akan menghindari diskusi perbedaan-perbedaan saya dengan anggota kelompok.
b. Obliging (keharusan) – saya akan menyerahkan pada ke kebijakan anggota kelompok.
c. Compromising – saya akan menggunakan memberi dan menerima sedemikian sehingga suatu kompromi bisa dibuat.
d. Dominating – saya akan memastikan penanganan isu sesuai kehendak-ku.
e. Integrating – saya akan menukar informasi akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama-sama.
Face-negotiation teory menyatakan bahwa avoiding, obliging, compromising, dominating, dan integrating bertukar-tukar menurut campuran perhatian mereka untuk self-face dan other -face.
3. Speech Codes Theory.
Teori yang dipublikaskan Gerry Philipsen ini berusaha menjawab tentang keberadaan speech code dalam suatu budaya, bagaimana substansi dan kekuatannya dalam sebuah budaya. Ia menyampaikan proposisi-proposisi sebagai berikut:
a. Dimanapun ada sebuah budaya, disitu diketemukan speech code yang khas.
b. Sebuah speech code mencakup retorikal, psikologi, dan sosiologi budaya.
c. Pembicaraan yang signifikan bergantung speech code yang digunakan pembicara dan pendengar untuk memkreasi dan menginterpretasi komunikasi mereka.
d. Istilah, aturan, dan premis terkait ke dalam pembicaraan itu sendiri.
e. Kegunaan suatu speech code bersama adalah menciptakan kondisi memadai untuk memprediksi, menjelaskan, dan mengontrol formula wacana tentang intelijenitas, prudens (bijaksana, hati-hati) dan moralitas dari perilaku komunikasi.
Diposkan oleh ADI PRAKOSA di 18.36
1 komentar:
http://lh6.googleusercontent.com/-j0J1On8zmbE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFs/6UrU-827txA/s512-c/photo.jpg
Julvian deadflamers mengatakan...
Luar biasa..ini yang saya cari untuk bahan tugas perkuliahan saya !

Salam kenal dan terima kasih postingan nya :)

Julvian
110240120
Manajemen komunikasi